Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image Demo image

Renungan Kehidupan

  • Sabtu, 15 Oktober 2011
  • Unknown
  • Label:
  • Hidup itu sederhana.

    Menjalani aktifitas keduniawian seumur yang telah ditentukan.

    Hidup dalam masa itu adalah mencari ketenangan,kebahagian dan kedamaian.

    Maka kita perlu berusaha.

    Berusaha melakukan tugas dan kewajiban mencari reski secara halal.

    Berusaha mencari jalan menuju ketenangan,bahagia dan kedamaian.

    Tenang,bahagia dan damai melalui jalan.

    Jalan kemanusian,spritual.

    Kemanusian dipupuk melalui relasi sosial yang saling membebaskan.

    Membebaskan dari penderitaan,dan bersama-sama keluar dari kesulitan.

    Spritual melalui jalan kebatinan.Berbuat amal dan kebajikan sesuai dengan batas kemampuan.

    Alangkah indah hidup yang bahagia,tenang , damai dengan ketulusan tanpa kemunafikan.

    Kenapa harus kaya dulu,berkuasa,dan memiliki ketenaran.

    Kalau itu harus mengorbankan banyak orang dan penuh dusta dan tipuan.

    Sehingga hidupmu penuh dengan kecemasan karena ketidak tenangan.

    Karena sesungguhnya batinmu tidak akan menemukan kedamaian dalam kemunafikan.

    Maka wahai saudaraku kembalilah engkau pada jalan yang bisa diterima oleh saudara sebangsamu.

    Jalan kebenaran penuh kejujuran pada dirimu dengan tuntunan dan keyakinan spritualmu.

    Bagiku jalan keihklasan dan kepatuhan kepada Ridho TuhanKu.

    Jalan yang mampu membawa bahagia,tenang dan damai.

    Yang akan mendapat tempat sesama insan dan diridhoiNya.

    Bengkulu

  • Jumat, 14 Oktober 2011
  • Unknown



  • Pakaian Adat
    Kelengkapan pakaian adat untuk kaum pria di Bengkulu terdiri dari jas, memakai sarung, celana panjang, alas kaki yang juga dilengkapi dengan memakai tutup kepala serta sebuah keris. Jas yang di pakai tersebut terbuat dari bahan kain yang bermutu seperti wol atau bisa juga bahan sejenisnya dan umumya warnanya gelap seperti warna hitam dan warna biru tua. Sementara untuk bawahannya berupa celana yang terbuat dari bahan serta dengan pilihan warna yang sama.
    Sedangkan sebagai pelengkap busana adat pria Bengkulu untuk bagian kepala dipakai detar yang terbuat dari kain songket emas atau bisa juga dari kain songket perak, kemudian memakai alas kaki beludru yang bercorak keemasan, juga memakai sebilah keris serta gelang emas yang di kenakan di tangan kanan.





    Pakaian Adat Bengkulu


    Untuk baju adat kaum wanita Melayu di provinsi Bengkulu memakai baju kurung yang berlengan panjang, serta bertabur motif corak-corak dan bersulam emas yang berbentuk lempengan bulat yang kalau di lihat seperti uang logam. Bahan baju kurung wanita Bengkulu biasanya dari beludru dengan pilihan warna-warna merah tua, warna biru tua, warna lembayung atau warna hitam. Ada pelengkap tambahan untuk pakaian adat wanita Bengkulu yaitu sarung songket benang emas atau perak dengan pilihan warna yang serasi dan terbuat dari sutra.
    Kemudian sehelai kampuh yang terbuat dari bahan satin sutra bersulamkan emas, cara memakaian dengan diselempang pada bagian dada kearah belakang punggung dan membentuk menyerupai huruf V. Pada bagian dada atas kampuh bergantungan tampak sangat glamor dan berlapis-lapis dalam jumlah sangat banyak. Untuk pergelangan tangan serta pada jari jemari dilingkari dengan cincin permata, sementara pada alas kaki menggunakan selop yang bersulam emas.


    Tarian Tradisional
    Terdapat beberapa tarian tradisional asal Bengkulu yaitu : Tari Tombak Kerbau, Tari Putri Gading Cempaka, Tari Pukek, Tari Andun, Tari Kejei, Tari Penyambutan, Tari Bidadari Meminang Anak, Tari Topeng. Berikut ini beberapa penjelasan tarian tradisional asal Bengkulu:
    1. Tari Andun
    Tari Andun merupakan salah satu tarian rakyat yang dilakukan pada saat pesta perkawinan. Biasanya dilakukan oleh para bujang dan gadis secara berpasangan pada malam hari dengan diringi musik kolintang. Pada zaman dahulu, tari andun biasanya digunakan sebagai sarana mencari jodoh setelah selesai panen padi.





    Tari Andun


    Sebagai bentuk pelestariannya, saat ini dilakukan sebagai salah satu sarana hiburan bagi masyarakat khususnya bujang gadis.


    2. Tari Bidadari Teminang Anak





    Tari Bidadari Teminang Anak


    Tari Bidadari Teminang Anak, tarian ini dapat pula diartikan bidadari meminang anak. Tarian adat ini berasal dari Rejang Lebong.



    Lagu Daerah
    Lalan Belek
    Download Lagu Lalan Belek Disini
    Lirik Lagu :
    Oi lalan belek… oi lalan belek, lalan belek
    (Oi, Lalan come back.. oi Lalan come back, Lalan come back)
    Oi lalan belek… oi lalan belek, lalan belek
    (Oi, Lalan come back.. oi Lalan come back, Lalan come back)
    Kemak boloak si depeak
    depeak nang au
    Kemak dawen si lipet duwei
    Lipet duwei
    Kunyeu depoloak etun temegeak nang au
    Belek asen ite beduei ite beduei
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Amen ku namen repie epet nang au
    Coa ku melapen eboak kedulo
    Eboak kedulo…
    Amen kunamen idup yo peset nang au
    Coa ku lak tu’un mai dunio
    tu’un mai dunio
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Amen ade seludang pinang nang au
    Jano guno ku upeak igei
    ku upeak igei
    Amen ade bayang betunang nang au
    Jano guno bemedeak igei
    Bemedeak igei
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Bilei iyo temanem tebeu nang au
    Memen sebilei temanem seie
    Temanem seie
    Bilei iyo ite betemu nang au
    Memen sebilei ite becei
    Ite becei
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek
    Oi lalan belek… oi lalan belek… lalan belek…………….


    Rumah Adat
    Rumah Bubungan Lima adalah rumah adat resmi Provinsi Bengkulu. Rumah Bubungan Lima termasuk jenis rumah panggung. “Bubungan lima” sejatinya merujuk pada atap dari rumah panggung tersebut. Selain “bubungan lima”, rumah panggung khas Bengkulu ini memiliki bentuk atap lainnya, sperti “bubungan limas”, “bubungan haji”, dan “bubungan jembatan”. Material utama yang digunakan adalah kayu medang kemuning atau surian balam, yang berkarakter lembut namun tahan lama. Lantainya terbuat dari papan, sementara atapnya terbuat dari ijuk enau atau sirap. Sementara di bagian depan, terdapat tangga untuk naik-turun rumah, yang jumlahnya biasanya ganjil (berkaitan dengan nilai adat).
    Menilik sejumlah literatur yang menerangkan tentang rumah adat ini, kesimpulan sementara yang bisa diambil adalah, rumah ini bukanlah jenis tempat tinggal yang umum ditempati masyarakat. Rumah Bubungan Lima (juga jenis rumah adat lainnya di Bengkulu) merupakan rumah dengan fungsi khusus yang digunakan untuk ritus-ritus adat atau acara khusus, seperti penyambutan tamu, kelahiran, perkawinan, atau kematian. Rumah Bubungan Lima, merupakan salah satu prototipe hunian tahan banjir, yang merepresentasikan nilai-nilai kearifan lokal pada masyarakat Bengkulu.





    Rumah Adat Bengkulu


    Ramli, dkk (1992), seperti dikutip oleh Larasati dalam http://prestylarasati.wordpress.com/), menerangkan bahwa Rumah Bubungan Lima, dan rumah panggung warga Bengkulu pada umumnya, terdiri atas beberapa bagian:
    Bagian Atas:
    Bagian atas terdiri dari:
    1. Atap, terbuat dari ijuk, bambu, atau seng,
    2. Bubungan, ada beberapa bentuk,
    3. Pacu (plafon), dari papan atau pelupuh,
    4. Peran, balok-balok bagian atas yang menghubungkan tiang-tiang bagian atas,
    5. Kap, kerangka untuk menempel kasau,
    6. Kasau, untuk mendasi reng,
    7. Reng, untuk menempel atap, dan
    8. Listplang, suyuk, penyunting.
    Bagian Tengah:
    Bagian tengah terdiri dari:
    1. Kusen, kerangka untuk pintu dan jendela,
    2. Dinding, terbuat dari papan atau pelupuh,
    3. Jendela, bentuk biasa dan bentuk ram,
    4. Pintu, bentuk biasa dan bentuk ram,
    5. Tulusi (lubang angin), ventilasi, biasanya di atas pintu dan jendela, dibuat dengan berbagai ragam hias,
    6. Tiang penjuru,
    7. Piabung, tiang penjuru halaman,
    8. Tiang tengah,
    9. Bendu, balok melintang sepanjang dinding.
    Bagian Bawah
    Sementara bagian bawah, terdiri dari:
    1. Lantai, dari papan, bambu, atau pelupuh,
    2. Geladak, dari papan 8 dim dengan lebar 50cm, dipasang sepanjang dinding luar di atas balok,
    3. Kijing, penutup balok pinggir dari luar, sepanjang keliling dinding,
    4. Balok (besar), kerangka untuk lantai yang memanjang ke depan,
    5. Tailan, balok sedang yang berfungsi sebagai tempat menempelkan lantai,
    6. Blandar, penahan talian, melintang,
    7. Bedu, balok diatas sebagai tempat meletakkan rel,
    8. Bidai, bamboo tebal yang dipasang melintang dari papan lantai, untuk mempertahankan dari tusukan musuh dari bawah rumah,
    9. Pelupuh kamar tidur, sejajar dengan papan lantai (di atas bidai),
    10. Lapik tiang, batu pondasi tiang rumahtiang rumah,
    11. Tangga depan dan belakang.


    Susunan Ruang dan Fungsinya
    Susunan ruang Rumah Bubungan Lima (dan rumah panggung Melayu Bengkulu umumnya) beserta fungsinya, adalah sebagai berikut:
    • Berendo
    Tempat menerima tamu yang belum dikenal, atau tamu yang hanya menyampaikan suatu pesan (sebentar). Selain itu juga dipergunakan untuk bersantai pada pagi atau sore hari. Bagi anak-anak, berendo juga sering dipergunakan untuk bermain congkak, karet, dll
    • Hall
    Ruang untuk menerima tamu yang sudah dikenal baik, keluarga dekat, atau orang yang disegani. Ruangan ini juga digunakan untuk tempat cengkrama keluarga pada malam hari, ruangan belajar bagi anak-anak, dan sewaktu-waktu ruang ini digunakan untuk selamatan atau mufakat sanak famili.
    • Bilik Gedang
    Bilik gedang atau bilik induk merupakan kamar tidur bagi kepala keluarga (suami istri) serta anak-anak yang masih kecil.
    • Bilik Gadis
    Biasanya terdapat pada keluarga yang memiliki anak gadis, merupakan kamar bagi Si Anak Gadis. Selain uantuk tidur juga digunakan untuk bersolek. Bilik gadis biasanya berdampingan dengan bilik gedang, demi keamanan dan kemudahan pengawasan terhadap anak gadis mereka.
    • Ruang Tengah
    Biasanya dikosongkan dari perabot rumah, dan di sudutnya disediakan beberapa helai tikar bergulung karena fungsi utamanya adalah untuk menerima tamu bagi ibu rumah tangga atau keluarga dekat bagi si gadis. Di samping itu juga sering dipakai sebagai tempat belajar mengaji. Bagi keluarga yang tidak memilki kamar bujang tersendiri, kadang-kadang dipakai untuk tempat tidur anak bujang.
    • Ruang Makan
    Tempat makan keluarga. Pada rumah kecil biasanya tidak terdapat ruang makan, mereka makan di ruang tengah. Bila ada tamu bukan keluarga dekat, maka untuk mengajak tamu makan bersama digunakan hal, bukan di ruang makan.
    • Garang
    Tempat penyimpanan tempayan air atau gerigik atau tempat air lainnya, juga dipakai untuk tempat mencuci piring dan mencuci kaki sebelum masuk rumah atau dapur
    • Dapur
    Ruangan untuk memasak
    • Berendo Belakang
    Serambi belakang, tempat bersantai bagi kaum wanita pada siang atau sore hari, melepas lelah setelah mengerjakan tugas, tempat mengobrol sambil mencari kutu.
    Selain Rumah Bubungan Lima, di Provinsi Bengkulu juga terdapat rumah adat yang lain seperti Rumah Umeak Potong Jang, Rumah Kubung Beranak, Rumah Patah Sembilan, dan lain sebagainya.

    Maluku

  • Unknown


  • Sejarah

    Maluku merupakan salah satu propinsi tertua dalam sejarah Indonesia merdeka, dikenal dengan kawasan Seribu Pulau serta memiliki keanekaragaman sosial budaya dan kekayaan alam yang berlimpah. Secara historis kepulauan Maluku terdiri dari kerajaan-kerajaan Islam yang menguasai pulau-pulau tersebut. Oleh karena itu, diberi nama Maluku yang berasal dari kata Al Mulk yang berarti Tanah Raja-Raja. Daerah ini dinyatakan sebagai propinsi bersama tujuh daerah lainnya; Kalimantan, Sunda Kecil, Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, dan Sumatera – hanya dua hari setelah bangsa Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Namun secara resmi pembentukan Maluku sebagai propinsi daerah tingkat I RI baru terjadi 12 tahun kemudian, berdasarkan Undang Undang Darurat Nomor 22 tahun 1957 yang kemudian diganti dengan Undang-Undang Nomor 20 tahun 1958.

    Suku Bangsa

    Suku bangsa Maluku didominasi oleh ras suku bangsa Melanesia Pasifik yang masih berkerabat dengan Fiji, Tonga dan beberapa bangsa kepulauan yang tersebar di kepulauan Samudra Pasifik

    Bahasa yang digunakan di provinsi Maluku adalah Bahasa Melayu Ambon, yang merupakan salah satu dialek bahasa Melayu.

    Senjata Tradisional



    PARANG DAN SALAWAKU, Merupakan senjata tradisional khas daerah Maluku. Kedua senjata ini biasanya dipakai oleh para penari pria saat mempertunjukkan tarian Cakalele. Pada salawaku terdapat ukiran-ukiran bermakna khusus yang terbuat dari kulit kerang laut. Ukuran parang dan salawaku sangat bervariasi tergantung postur badan sang penari. Masyarakat pulau Kakara B di Halmahera Utara terkenal sebagai pengrajin salawaku yang piawai.

    Pakaian Adat



    Rumah Tradisional

    Rumah Baileo

    Tari Tradisional



    Cakalele merupakan tarian tradisional Maluku yang dimainkan oleh sekitar 30 laki-laki dan perempuan. Penari cakalele pria biasanya menggunakan parang dan salawaku sedangkan penari wanita menggunakan lenso (sapu tangan).

    Keistimewaan tarian ini terletak pada tiga fungsi simbolnya. (1) Pakaian berwarna merah pada kostum penari laki-laki, menyimbolkan rasa heroisme terhadap bumi Maluku, serta keberanian dan patriotisme orang Maluku ketika menghadapi perang. (2) Pedang pada tangan kanan menyimbolkan harga diri warga Maluku yang harus dipertahankan hingga titik darah penghabisan. (3) Tameng (salawaku) dan teriakan lantang menggelegar pada selingan tarian menyimbolkan gerakan protes terhadap sistem pemerintahan yang dianggap tidak memihak kepada masyarakat.

    Makanan Khas



    Papeda atau bubur sagu, merupakan makanan pokok masyarakat Maluku dan Papua. Makanan ini terdapat di hampir semua daerah di Maluku dan Papua.

    Papeda dibuat dari tepung sagu. Pembuatnya para penduduk di pedalaman Papua. Tepung sagu dibuat dengan cara menokok batang sagu. Pohon yang bagus untuk dibuat sagu adalah pohon yang berumur antara tiga hingga lima tahun.

    Mula-mula pokok sagu dipotong. Lalu bonggolnya diperas hingga sari patinya keluar. Dari sari pati ini diperoleh tepung sagu murni yang siap diolah. Tepung sagu kemudian disimpan di dalam alat yang disebut tumang.

    Papeda biasanya disantap bersama kuah kuning, yang terbuat dari ikan tongkol atau ikan mubara dan dibumbui kunyit dan jeruk nipis.

    Lagu Tradisional

    1. Nona Manis

    Download disini

    Lirik lagu :

    Nona manis siapa yang punya
    Nona manis siapa yang punya
    Nona manis siapa yang punya
    Rasa sayang sayange

    Baju merah siapa yang punya
    Baju merah siapa yang punya
    Baju merah siapa yang punya
    Rasa sayang sayange

    Ingat ingat itu Remember
    Jangan lupa itu Don’t Forget
    Aku cinta itu i Love You
    Hanya kamu Only You

    1. Sarinande

    Download disini


    Lirik lagu :

    Sarinande, putri Sarinande
    Mengapa tangis matamu bengkak?
    Aduh mama, aduhlah papa
    Bak asap api masuk dimata
    Aduh mama, aduhlah papa
    Hati risau apakah obatnya?